*Love around the worLd*
Friday, June 01, 2012
Thursday, May 10, 2012
Saya Mau Berbahagia
Sering di dalam hidup saya merasa bahwa tidak ada yang memahami saya.
Bahkan merasa saya tidak dicintai oleh siapapun.
Saya menuntut dipahami, saya menuntut dicintai.
Orang tua, saudara acap kali gengsi mengatakan kata "aku sayang padamu" kepada saya. Saya juga ternyata tidak jauh berbeda. Terlalu 'gengsi' mengatakan saya menyayangi mereka.
Walau di dalam hati kata-kata itu sering diucapkan.
Seorang sahabat berkata pada saya, jika kamu ingin perubahan, jangan menunggu orang lain. Berubahlah terlebih dahulu.
Bagai dicubit olehNya, saya baru sadar bahwa sering kali saya menunggu dan menuntut tanpa melakukannya terlebih dahulu.
Saya juga baru sadar bahwa cinta adalah pekerjaan 2 arah. Saya juga harus memahami. Saya juga harus mencintai. Sebelum saya mendapatkan itu semua.
Berat. Mengucapkan kata-kata cinta/sayang itu sangat berat. Terutama kepada keluarga terdekat.
Rasanya semua darah mengalir ke wajah dan membuatnya memerah.
Belum jadi salah tingkah dan bingung mau bereaksi apa saat lawan bicara merespon.
Semua itu saya rasakan saat saya mengatakan 'i love you' kepada calon suami saya.
Apalagi kepada adik/tante?
Oooh tidak terbayangkan...
Namun, satu yang selalu teringat.
Saya tidak mau seperti dahulu.
Hanya bisa berkata cinta/sayang saat semua sudah terlambat.
Saat lawan bicara sudah tak mampu menjawab dan hanya sesal yang tersisa.
Saya mau bisa mengatakan semuanya saat semua belum terlambat.
Saya mau berbahagia...
10 Mei 2012
-renungan kamar mandi-
--
http://sampiran.blogspot.com/
Bahkan merasa saya tidak dicintai oleh siapapun.
Saya menuntut dipahami, saya menuntut dicintai.
Orang tua, saudara acap kali gengsi mengatakan kata "aku sayang padamu" kepada saya. Saya juga ternyata tidak jauh berbeda. Terlalu 'gengsi' mengatakan saya menyayangi mereka.
Walau di dalam hati kata-kata itu sering diucapkan.
Seorang sahabat berkata pada saya, jika kamu ingin perubahan, jangan menunggu orang lain. Berubahlah terlebih dahulu.
Bagai dicubit olehNya, saya baru sadar bahwa sering kali saya menunggu dan menuntut tanpa melakukannya terlebih dahulu.
Saya juga baru sadar bahwa cinta adalah pekerjaan 2 arah. Saya juga harus memahami. Saya juga harus mencintai. Sebelum saya mendapatkan itu semua.
Berat. Mengucapkan kata-kata cinta/sayang itu sangat berat. Terutama kepada keluarga terdekat.
Rasanya semua darah mengalir ke wajah dan membuatnya memerah.
Belum jadi salah tingkah dan bingung mau bereaksi apa saat lawan bicara merespon.
Semua itu saya rasakan saat saya mengatakan 'i love you' kepada calon suami saya.
Apalagi kepada adik/tante?
Oooh tidak terbayangkan...
Namun, satu yang selalu teringat.
Saya tidak mau seperti dahulu.
Hanya bisa berkata cinta/sayang saat semua sudah terlambat.
Saat lawan bicara sudah tak mampu menjawab dan hanya sesal yang tersisa.
Saya mau bisa mengatakan semuanya saat semua belum terlambat.
Saya mau berbahagia...
10 Mei 2012
-renungan kamar mandi-
--
http://sampiran.blogspot.com/
Tuesday, May 08, 2012
Mencintainya
Mengapa kau mencintaiku? Apakah alasanmu?
Sebuah pertanyaan kulontarkan kepadanya malam itu. Malam kala kami bertengkar kembali akibat sebuah masalah sepele.
Sebuah masalah sepele yang juga bisa melontarkan pertanyaan, haruskah kita teruskan? Haruskah?
Kaget, shock, sedih semua bercampur jadi satu. Tidak percaya karena dia bisa berkata seperti itu semudah mengigit cabe rawit. Hanya air mata yang menetes deras sambil setengah terisak-isak. Sebuah tanya mengapa berloncatan dalam kepalaku.
Tiga tahun sudah kami bersama. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Padahal rasanya baru kemarin kami berkenalan, memiliki konflik hingga akhirnya dia mengajakku menikah.
Masalah demi masalah pun seperti air hujan yang tak pernah berhenti dicurahkan.
Walaupun begitu, sebuah payung selalu siap terbuka melindungi kami.
Sesekali memang kami terkena percikannya dan basah, namun sesekali juga kami bisa melewatinya tanpa harus mengucapkan kata-kata tersebut.
Seseorang pernah berkata kepadaku, hidup tanpa masalah itu bukanlah masalah. Pernikahan tanpa bertengkar itu kurang afdol. Justru dengan adanya masalah dan pertengkaran, kehidupan pernikahanmu semakin diuji dan ditempa layaknya besi sebelum menjadi pedang yang kokoh.
Benarkah begitu?
Bukankah pada akhirnya pertengkaran demi pertengkaran harus ada akhirnya? Bagaimana kalau pada akhirnya salah satu dari kami menyerah akibat kelelahan? Bagaimana kalau akhirnya terkapar terluka? Bagaimana kalau akhirnya kata-kata itu harus juga dijawab?
Seseorang juga pernah berkata kepadaku, cinta itu kata kerja. Ingat! Kata kerja! Jadi harus dikerjakan ya!
Teringat akan kata-kata seseorang itu meredakan tangisku. Jika aku mencintainya, aku harus mengusahakan dan mengerjakannya. Bukan sekedar dituliskan atau dikatakan saja. Aku harus 'mengerjakan'nya.
Jika itu berarti harus menahan ego agar dapat memahami seluruh seluk beluk karakter dan pemikirannya, so why not?
Aku toh tidak mau membuang waktu tiga tahun kebersamaan itu dengan mudah.
Jika aku dilahirkan sebagai 'tentara', maka ini adalah 'medan perang'ku. Aku harus 'memperjuangkan' hubungan kami. Aku harus berkata, ya tetap diteruskan! Susah senang ditanggung bersama!
Sama seperti janji yang akan kami ucapkan nanti, dalam suka dan duka, dalam sehat ataupun sakit selalu bersama selamanya. Mencintainya hingga akhir hayatku.
8 Mei 2012
Share
Sebuah pertanyaan kulontarkan kepadanya malam itu. Malam kala kami bertengkar kembali akibat sebuah masalah sepele.
Sebuah masalah sepele yang juga bisa melontarkan pertanyaan, haruskah kita teruskan? Haruskah?
Kaget, shock, sedih semua bercampur jadi satu. Tidak percaya karena dia bisa berkata seperti itu semudah mengigit cabe rawit. Hanya air mata yang menetes deras sambil setengah terisak-isak. Sebuah tanya mengapa berloncatan dalam kepalaku.
Tiga tahun sudah kami bersama. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Padahal rasanya baru kemarin kami berkenalan, memiliki konflik hingga akhirnya dia mengajakku menikah.
Masalah demi masalah pun seperti air hujan yang tak pernah berhenti dicurahkan.
Walaupun begitu, sebuah payung selalu siap terbuka melindungi kami.
Sesekali memang kami terkena percikannya dan basah, namun sesekali juga kami bisa melewatinya tanpa harus mengucapkan kata-kata tersebut.
Seseorang pernah berkata kepadaku, hidup tanpa masalah itu bukanlah masalah. Pernikahan tanpa bertengkar itu kurang afdol. Justru dengan adanya masalah dan pertengkaran, kehidupan pernikahanmu semakin diuji dan ditempa layaknya besi sebelum menjadi pedang yang kokoh.
Benarkah begitu?
Bukankah pada akhirnya pertengkaran demi pertengkaran harus ada akhirnya? Bagaimana kalau pada akhirnya salah satu dari kami menyerah akibat kelelahan? Bagaimana kalau akhirnya terkapar terluka? Bagaimana kalau akhirnya kata-kata itu harus juga dijawab?
Seseorang juga pernah berkata kepadaku, cinta itu kata kerja. Ingat! Kata kerja! Jadi harus dikerjakan ya!
Teringat akan kata-kata seseorang itu meredakan tangisku. Jika aku mencintainya, aku harus mengusahakan dan mengerjakannya. Bukan sekedar dituliskan atau dikatakan saja. Aku harus 'mengerjakan'nya.
Jika itu berarti harus menahan ego agar dapat memahami seluruh seluk beluk karakter dan pemikirannya, so why not?
Aku toh tidak mau membuang waktu tiga tahun kebersamaan itu dengan mudah.
Jika aku dilahirkan sebagai 'tentara', maka ini adalah 'medan perang'ku. Aku harus 'memperjuangkan' hubungan kami. Aku harus berkata, ya tetap diteruskan! Susah senang ditanggung bersama!
Sama seperti janji yang akan kami ucapkan nanti, dalam suka dan duka, dalam sehat ataupun sakit selalu bersama selamanya. Mencintainya hingga akhir hayatku.
8 Mei 2012
Share
Tuesday, April 17, 2012
Sahabat
Terabaikan
Mengabaikan
Hilang
Menghilang
Seperti embun yang hilang kala mentari meninggi
Seperti jejak di pasir yang tersapu oleh ombak
Pergi atau tetap
Hanya bisu
Benci atau cinta
Hanya diam
Menciptakan air mata
Menghasilkan duka dan luka
Ucapkan maaf
Katakan penyesalan
Kala kata tak tersampaikan
Saat ucap tak berbalas
Sepele, katamu
Tidak, kataku
Teman adalah teman
Walau tidak bertatap muka dan bersentuhan
Sahabat adalah sahabat
Walau tidak bersama dan berjauhan
Ia kan tetap ada
Menggoreskan cerita
Walau tak lagi bersandingan
17 April 2012
For her
Share
Mengabaikan
Hilang
Menghilang
Seperti embun yang hilang kala mentari meninggi
Seperti jejak di pasir yang tersapu oleh ombak
Pergi atau tetap
Hanya bisu
Benci atau cinta
Hanya diam
Menciptakan air mata
Menghasilkan duka dan luka
Ucapkan maaf
Katakan penyesalan
Kala kata tak tersampaikan
Saat ucap tak berbalas
Sepele, katamu
Tidak, kataku
Teman adalah teman
Walau tidak bertatap muka dan bersentuhan
Sahabat adalah sahabat
Walau tidak bersama dan berjauhan
Ia kan tetap ada
Menggoreskan cerita
Walau tak lagi bersandingan
17 April 2012
For her
Share
Label:
friendship,
poem
Subscribe to:
Posts (Atom)
